Interaksi antar anggota
masyarakat dari berbagai kalangan, melalui media. Contoh paling mudah
adalah kehadiran twitter atau facebook, yang bisa menempatkan
orang-orang dari kalangan atas, baik dari sisi status sosial maupun
ekonomi, dengan siapa saja sesama pengguna kedua jejaring sosial
tersebut. Media sosial, telah mendatarkan kesenjangan yang tadinya
terbentuk karena akses yang tidak sama terhadap orang-orang tertentu.
Salah satu dampak meningkatnya akses melalui perkembangan teknologi media, adalah terbentuknya lingkungan yang dapat menjadi arena belajar, baik secara kognitif maupun afektif bagi generasi muda. Mereka tidak saja mendapatkan informasi baru dengan cepat, tetapi juga belajar bersikap terhadap materi dalam media-media baru tersebut. Positif atau negatif, tergantung pada lingkungan seperti apa yang dimasukinya.
Frasa Melek Media dan Informasi, atau dalam bahasa aslinya media and information literacy merujuk pada proses belajar mengajar, dan penerapan cara berpikir kritis dalam proses menerima dan mengirim informasi melalui media massa genre baru ini. Proses ini akan berdampak pada pengetahuan seseorang, dan nilai-nilai dalam lingkungan sosial, termasuk sikap bertanggung jawab dalam mempublikasikan sesuatu, dan mengambil sesuatu dari dunia maya. Secara umum, melek media dan informasi terbagi dalam 5 kompetensi:
Salah satu dampak meningkatnya akses melalui perkembangan teknologi media, adalah terbentuknya lingkungan yang dapat menjadi arena belajar, baik secara kognitif maupun afektif bagi generasi muda. Mereka tidak saja mendapatkan informasi baru dengan cepat, tetapi juga belajar bersikap terhadap materi dalam media-media baru tersebut. Positif atau negatif, tergantung pada lingkungan seperti apa yang dimasukinya.
Frasa Melek Media dan Informasi, atau dalam bahasa aslinya media and information literacy merujuk pada proses belajar mengajar, dan penerapan cara berpikir kritis dalam proses menerima dan mengirim informasi melalui media massa genre baru ini. Proses ini akan berdampak pada pengetahuan seseorang, dan nilai-nilai dalam lingkungan sosial, termasuk sikap bertanggung jawab dalam mempublikasikan sesuatu, dan mengambil sesuatu dari dunia maya. Secara umum, melek media dan informasi terbagi dalam 5 kompetensi:
- Comprehension (Pemahaman)
- Critical thinking (Berpikir kritis)
- Creativity (Kreativitas)
- Cross-cultural awareness (Kesadaran Lintas Budaya)
- Citizenship (Cinta Tanah Air)
Untuk bisa mencapai kompetensi tersebut,
pendidikan melek media dan informasi di sekolah harus ditingkatkan.
Materi yang diajarkan di sekolah tentang isu melek media dan informasi
ini, dapat diintegrasikan dengan kurikulum yang sudah ada. Selain yang
bersifat pengetahuan, juga perlu meningkatkan kemampuan dalam hal
menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, dengan menerapkan melek media
dan informasi di sekolah, sebenarnya dapat meningkatkan pula kualitas
prose belajar mengajar di kelas, dalam hal making meaning and constructing knowledge (membuat makna dan membangun pengetahuan).
Penggunaan media di kelas, tidak lagi bisa tergantung pada pemanfaatan dalam proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi subyek tersendiri yang dibahas secara kritis. Selama ini, media dalam proses belajar mengajar masih ditempatkan sebagai media belajar, bukan sumber belajar, bahkan metodologi dalam belajar. Dengan melek media dan informasi, siswa bisa diarahkan untuk menciptakan media-media ekspresi sebagai hasil pembelajaran, sehingga proses belajar tidak sekedar menerima, tetapi juga mengkonstruksinya menjadi pengetahuan baru bagi siswa.
Isu lain yang juga penting bagi sekolah, siswa-siswa sekarang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara luas. Telepon genggam saat ini tidak saja bisa digunakan untuk menelepon atau mengirim teks, tetapi juga dapat mengirim materi multi media. Isu penyebaran video atau foto porno di sekolah antar siswa, sudah menjadi isu yang mengkhawatirkan. Jika pihak sekolah, dalam hal ini para guru tak mampu mengantisipasi karena belum menguasai perkembangan teknologinya, maka bahaya pornografi akan semakin mengancam generasi muda. Selain isu teknologi, masih ada isu etika dalam penyebaran file-file tertentu di dunia maya melalui teknologi informasi dan komunikasi yang juga penting bagi siswa.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka sangat masuk akal jika sekolah saat ini tidak hanya melaksanakan pembelajaran secara konvensional di kelas tetapi juga perlu melaksanakan pembelajaran berbasis digital dimana akses pembelajaran bisa di kelas maupun di luar kelas. Untuk itu SMK Negeri 8 Semarang mencoba untuk melaksanakan pembelajaran berbasis digital dimana konsep yang dikembangkan menggunakan elearning. Rancangan kelas digital tersebut adalah sebagai berikut :
Penggunaan media di kelas, tidak lagi bisa tergantung pada pemanfaatan dalam proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi subyek tersendiri yang dibahas secara kritis. Selama ini, media dalam proses belajar mengajar masih ditempatkan sebagai media belajar, bukan sumber belajar, bahkan metodologi dalam belajar. Dengan melek media dan informasi, siswa bisa diarahkan untuk menciptakan media-media ekspresi sebagai hasil pembelajaran, sehingga proses belajar tidak sekedar menerima, tetapi juga mengkonstruksinya menjadi pengetahuan baru bagi siswa.
Isu lain yang juga penting bagi sekolah, siswa-siswa sekarang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara luas. Telepon genggam saat ini tidak saja bisa digunakan untuk menelepon atau mengirim teks, tetapi juga dapat mengirim materi multi media. Isu penyebaran video atau foto porno di sekolah antar siswa, sudah menjadi isu yang mengkhawatirkan. Jika pihak sekolah, dalam hal ini para guru tak mampu mengantisipasi karena belum menguasai perkembangan teknologinya, maka bahaya pornografi akan semakin mengancam generasi muda. Selain isu teknologi, masih ada isu etika dalam penyebaran file-file tertentu di dunia maya melalui teknologi informasi dan komunikasi yang juga penting bagi siswa.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka sangat masuk akal jika sekolah saat ini tidak hanya melaksanakan pembelajaran secara konvensional di kelas tetapi juga perlu melaksanakan pembelajaran berbasis digital dimana akses pembelajaran bisa di kelas maupun di luar kelas. Untuk itu SMK Negeri 8 Semarang mencoba untuk melaksanakan pembelajaran berbasis digital dimana konsep yang dikembangkan menggunakan elearning. Rancangan kelas digital tersebut adalah sebagai berikut :
- Tersedia portal pembelajaran secara lengkap. Portal ini bisa diakses di www.elearning.smkn8semarang.sch.id
- Adanya kelas full laptop, semua siswa diarahkan untuk menggunakan perangkat digital seperti laptop, tablet dll.
- Adanya koordinator pelaksana pengembang portal pembelajaran. Pengembang portal pembelajaran ini dilaksanakan oleh tim Litbang SMK Negeri 8 Semarang.
- Pelatihan penggunaan portal pembelajaran untuk guru-guru SMK Negeri 8 Semarang
- Tersedianya akses internet di lingkungan sekolah yang memadai
Tahapan pengembangan Sekolah Berbasis Digital melalui langkah sebagai berikut :
- Sosialisasi dan workshop utk kepsek, guru, siswa dan orang tua yg terlibat
- Pembuatan kelas dan mata pelajaran
- Pemilihan guru penanggungjawab dan pengajar
- Pendaftaran siswa yg berminat,
- Pelatihan guru dalam pembuatan konten digital
- Simulasi Portal Belajar
- Penyempurnaan Portal Belajar
- Evaluasi Portal Belajar
Kami sangat berharap upaya SMK Negeri 8
Semarang menuju Sekolah Berbasis Digital akan berjalan dengan lancar.
Perbaikan disana-sini akan terus dilakukan dalam upaya menuju
terwujudnya sistem yang bagus. Dukungan semua pihak sangat diharapkan.